Ilustrasi (pixabay)
Ilustrasi (pixabay)

Setelah makan, kami semua menangis. Terlalu jijik dan bau. Sampai hari ini, orang tua saya belum tahu kalau saya disiksa makan kotoran manusia.

Begitulah penggalan curahan hati seorang siswa yang mendapat perlakuan sadis dari pendampingnya di Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa tidak manusiawi itu  terjadi pekan lalu, tepatnya pada Rabu (19/2/2020) pukul 14.30 WITA. 

Siswa kelas VII yang tak berkenan ditulis namanya itu, bukan satu-satunya yang mendapat hukuman 'memakan' kotoran manusia di BSB. Ada sebanyak 77 siswa di kelas yang sama yang mendapat perlakuan dari pendamping kelasnya.

Dari jumlah siswa itu, satu siswa akhirnya melapor ke orang tuanya. Siswa-siswa lain, tak berani menceritakan hal yang membuat seluruh wali murid geram itu. Mereka takut dengan ancaman dua pendamping kelasnya yang akan memberikan hukuman lagi, bila melapor ke kepala sekolah, asrama dan orang tua siswa.

Mengutip kompas.com (25/2/2020) kemarin, orang tua yang mendapat cerita anaknya itu membongkarnya melalui grup WhatsApp sekolah. Sehingga aksi itu terbongkar dan membuat heboh. 

Pihak seminari pun menggelar rapat dengan seluruh orang tua siswanya terkait peristiwa itu serta memberikan klarifikasi.

Pimpinan Seminari BSB, Romo Deodatus Du'u menyampaikan ada beberapa hal yang perlu diluruskan dengan ramainya peristiwa hukuman dengan memaksa puluhan siswa memakan kotoran manusia.

Deodatus menjelaskan, terminologi makan kotoran dianggap kurang tepat. Selain itu pelaku juga bukan pendamping atau pembina kelas, tapi siswa kelas XII yang bertugas menjaga kebersihan area asrama siswa kelas VII.

"Yang sebenarnya terjadi adalah seorang kakak kelas menyentuhkan sendok yang ada feses (kotoran manusia, red) pada bibir atau lidah siswa," ucapnya seperti dikutip kompas.com.

Selain hal itu, pelaku bukanlah pembina atau pendamping kelas. "Tapi dilakukan oleh dua siswa kelas XII yang bertugas menjaga kebersihan area asrama," imbuhnya.

Lepas dari itu, pihak seminari meminta maaf di hadapan orang tua terkait masalah ini. Serta memberikan sanksi kepada dua siswa yang melakukan perbuatan itu dengan mengeluarkannya dari BSB. 

"Seminari juga akan mendampingi para siswa untuk pemulihan mental dan menghindari trauma," ucap Deodatus.

Peristiwa hukuman dengan memaksa 'memakan' kotoran manusia ke 77 siswa, masih menurut Deodatus, bermula dengan ditemukannya feses di kantong plastik yang disembunyikan dalam lemari kosong di kamar tidur.

Feses itu pun ditemukan oleh dua kakak kelas yang menjaga kebersihan. Setelah makan siang, mereka pun mengumpulkan seluruh siswa dan menanyakan asal mula kotoran itu. Tak ada yang mengaku, kedua kakak kelas ini pun dibuat jengkel. 

Seorang kakak kelas pun mengambil sendok dan 'menyerok' kotoran itu dan disentuhkan ke bibir dan lidah para siswa. Setelahnya, mereka meminta untuk merahasiakan insiden tersebut dengan ancaman, bila bocor akan memberikan hukuman lainnya.