Korban Ledakan Gereja Surabaya Terima Kompensasi, Alami Kebutaan Ipda Nurhadi Sampaikan Hal Ini

Korban Ipda Nurhadi ketika disapa oleh Gubernur Jatim Khofifah
Korban Ipda Nurhadi ketika disapa oleh Gubernur Jatim Khofifah

SURABAYATIMES – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memberikan kompensasi terhadap para korban bom gereja di Surabaya. Kompensasi didasarkan atas putusan pengadilan yang memerintahkan negara membayarkan kompensasi bagi 16 korban terorisme di Surabaya sebesar Rp 1,1 miliar. Dan dibayarkan tepat setelah setahun peristiwa.

Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo mengatakan, negara semakin serius memperhatikan warga negaranya, termasuk saksi dan korban tindak pidana. Selain itu, perhatian tersebut membuktikan keseriusan negara dalam memberikan pelayanan dan keadilan kepada masyarakat. 

“Pembayaran kompensasi ini membuktikan aturan tentang hak-hak korban yang 
dituangkan dan dijamin dalam undang-undang,” terangnya. 

Ditambahkan, pembayaran kompensasi kepada para korban terorisme seperti 
kasus ledakan bom di Surabaya merupakan sejarah baru dalam dunia hukum.
Sebelumnya, peraturan yang ada hanya mengatur hak-hak tersangka terdakwa maupun terpidana. Namun, saat ini sudah ada jaminan terhadap hak-hak para saksi dan korban. 

“Mudah-mudahan dengan adanya pembayaran kompensasi ini, dapat dijadikan 
sebagai secercah harapan untuk dapat memulihkan kehidupan para korban,” tutur 
Hasto. 

Terkait kompensasi yang diberikan pemerintah pusat, menurut Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa merupakan bentuk kehadiran pemerintah menyapa dan melindungi warganya. Dan bentuk tersebut menjadi ikhtiar pemerintah. 

“Tragedi terorisme setahun lalu mengingatkan kita untuk saling menghormati, 
menghidupkan, urip iku gawe urup. Sehingga hal-hal yang mencederai apalagi sampai 
menghilangkan nyawa harus kita hindari,” urai gubernur perempuan pertama di Jatim ini. 

Salah satu korban yang selamat dari ledakan di gereja adalah Ipda Akhmad Nurhadi. Walaupun selamat dia saat ini mengalami cacat. Yaitu, kehilangan indra penglihatan dan sementara mengalami lumpuh sehingga harus memakai kursi roda untuk berpergian.

Awal kejadian Nurhadi mengaku sempat trauma. Namun, seiring berjalannya waktu semua itu mulai terkikis. "Kita pasrah saja sama yang kuasa," ujarnya mencoba tegar.

Menurut dia peristiwa tersebut kejadian yang luar biasa bagi warga Surabaya. "Warga Surabaya tetap tidak boleh takut. Aktivitas seperti semula. Kita hadapi bersama. Polisi siap mengamankan Surabaya," tegasnya.

Dia menambahkan peristiwa tersebut diharapkan adalah yang pertama sekaligus terakhir terjadi di Surabaya. "Jangan sampai terulang lagi. Luar biasa korbannya," imbuhnya.

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Sumber : Surabaya TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top