Trauma Berat, Anak di bawah Umur Korban Pemerkosaan Dipulangkan ke Orang Tua,

Pol PP saat segel ruangan kafe milik Idaman milik Markini di Kedungjalin desa Junjung Sumbergempol / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES
Pol PP saat segel ruangan kafe milik Idaman milik Markini di Kedungjalin desa Junjung Sumbergempol / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

SURABAYATIMES, TULUNGAGUNG – Korban perkosaan gadis di bawah umur yang terjadi di warung kopi Idaman Dusun Kedungjalin Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung akhirnya dipulangkan ke rumahnya di Malang. Kepulangan korban yang bernama Melati (16) adalah warga Kecamatan Turen Kabupaten Malang itu akhirnya menunda pelaporan ke pihak kepolisian.

"Belum, kasus itu belum pernah ada laporan pada pihak kami," kata Kapolres Tulungagung AKBP Tofik Sukendar melalui Kanit PPA Ipda Retno Pujiarsih, Rabu (11/09) siang.

Namun meski belum secara resmi ada laporan, Retno mengungkapkan sudah mendapatkan kronologi yang terjadi terkait kasus dugaan perkosaan yang dialami oleh Melati. "Kita sudah diceritakan kronologinya seperti apa, kita siap menerima sewaktu-waktu jika ada laporan," tegasnya.

Lanjut Retno, jika memang kejadian dilakukan beberapa waktu atau tepatnya satu bulan lalu, penyidik tetap bisa melakukan visum pada bekas luka di kemaluan korban. "Tetap bisa divisum dengan melihat luka lama dari trauma benda tumpul," terangnya.

Koordinator ULT PSAI Tulungagung, Sunarto, membenarkan jika Melati telah dipulangkan ke orangtuanya di Kabupaten Malang, pada Senin (9/9) malam. "Disini tidak memiliki shelter, anak ini harus dikembalikan ke orangtua karena kondisinya mengalami trauma berat dan tidak bisa ditanyai," kata Narto.

Untuk langkah selanjutnya, ULT PSAI menunggu koordinasi dari dinas terkait atau Dinas Sosial untuk melakukan pendampingan pada pelaporan ke ranah hukum. "Kita juga lakukan koordinasi dengan peksos di tempat korban bertempat tinggal, namun untuk menentukan apakah ini dilaporkan atau tidak kita menunggu dukungan dari Dinas sosial, intinya kami siap mendampingi pelaporan ke polisi," paparnya.

Menurut Narto, kasus yang sudah viral dan menjadi perhatian publik tersebut seharusnya juga dapat dijadikan dasar oleh pihak kepolisian untuk mengambil langkah hukum, apalagi korbannya masih anak di bawah umur. "Seharusnya bukan delik lagi, polisi bisa menjemput bola karena kasus ini sudah menjadi perhatian publik. Tanpa harus menunggu laporan, polisi seharusnya bisa melakukan penyidikan," ungkap Narto.

Hingga kini, orang yang disebut Pak Uceng yang beralamat di salah satu desa di Kecamatan Sumbergempol tersebut masih bebas berkeliaran dan belum tersentuh hukum.

Sementara, korban yang satunya bernama Tari (initial) juga menghilang. Bahkan, nomor handphone yang biasa dipegang sudah tidak aktif lagi. "Handpone nya (Tari) mati, kasus itu sudah diserahkan PSAI dan Dinsos dan entah mengapa malah diantar pulang," kata Agung Purwanto ketua Pawahikorta saat dikonfirmasi masalah tersebut.

Saat diamankan satpol PP, Melati sedang mendampingi pelanggan menyanyi di room. Gadis bertubuh sintal ini mengaku diajak temannya 'Tari' yang sudah bekerja di cafe ini. Di cafe milik Markini (65) ini Melati sudah bekerja sejak 1 bulan lalu. 

Di cafe ini ada sekitar 4 pemandu lagu, yang kesemuanya berasal dari luar kota. Dari pengakuan Melati, sebulan dia digaji sebesar Rp 1 juta rupiah. Belum lagi tips yang diterimanya dari pelanggan saat mendampingi karaoke di room.

Room yang ada sebanyak 2. Kondisi room terlihat kumuh dan pengap. Mirisnya saat ditanya oleh Satpol PP, Melati mengaku dipaksa untuk melayani nafsu salah satu pelanggannya.

Pewarta : Anang Basso
Editor : A Yahya
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top