Sejenak Menjadi Petani Kopi di Desa Taji, Penghasil Kopi Terbaik Dunia

Petani Kopi Desa Taji saat memanen biji kopi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Petani Kopi Desa Taji saat memanen biji kopi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

SURABAYATIMES, MALANG – Bermula dari harum kopi yang diseduh di salah satu kedai Terminal Kopi Malang, rasa penasaran muncul. Dari mana sebenarnya asal kopi yang nikmat diseruput itu. Benarkah kopi yang kini disediakan di lantai satu Pasar Terpadu Dinoyo itu ditanam di atas tanah negeri ini?

Ternyata jawabannya adalah iya. Kopi panas yang dihidangkan dan membuat antrean mengular itu merupakan salah satu kopi terbaik nusantara, bahkan dunia. Itu adalah kopi yang diproduksi di lereng Gunung Bromo, tepatnya Desa Taji Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Siapa yang tak kenal dengan Kopi Taji? Para pencinta kopi tentunya sudah tak asing lagi dengan kopi satu ini.

Lantaran pamor Kopi Taji tak hanya dalam skala nasional saja, melainkan sudah merambah pencinta kopi internasional. Beberapa pameran dan perlombaan yang mengangkat tema kopi selalu berhasil menjadikan kopi yang ditanam di ketinggian 1.200 dpl ini sebagai primadona.

Tak berhenti menikmati seduhan kopi terlezat saja, rasa penasaran mendorong diri ini untuk melihat langsung proses produksi hingga hamparan kebun kopi di Desa Taji. Sampai pada akhirnya, tim MalangTIMES berhasil menginjakkan kaki langsung di desa penghasil kopi terbaik di dunia itu pada Minggu, (1/9/2019).

Jaraknya dari pusat Kota Malang memang lumayan jauh. Waktu yang harus ditempuh hingga bisa sampai ke hamparan kebun cantik itu kurang lebih 1 jam 30 menit. Ditemani seorang pria yang sudah tak asing, yaitu babinsa (bintara pembina desa) dari Koramil 0818/23 Jabung, Sertu Heri Purnomo, perjalanan kami berjalan sangat lancar.

Bertemu tak jauh dari perbatasan Kota dan Kabupaten Malang, tim MalangTIMES melaju bersama Sertu Heri Purnomo dengan mengendarai kendaraan roda dua. Perbincangan kecil terjadi sesaat sebelum akhirnya perjalanan menuju Desa Taji dimulai.

"Hallo," sapa Sertu Heri saat mengendari kendaraan roda dua yang membuatnya tampak lebih gagah menghampiri tim MalangTIMES yang baru saja sampai menepi di tempat yang telah dijanjikan.

"Hallo pak, bagaimana? Langsung berangkat?," tanya salah satu tim MalangTIMES penuh semangat.

"Ayo, sudah pernah ke Desa Taji belum?," tanya Sertu Heri.

"Belum pak," jawab tim MalangTIMES sembari menggeleng.

"Oke, kita berangkat. Dari sini sekitar 12 kilometer lagi," jawab Heri sembari tersenyum. Dari situ, perjalanan pun kami mulai.

Memasuki kawasan Kecamatan Jabung, semuanya terasan masih normal dan dapat dilalui dengan mudah. Tak lama, jalanan menanjak dan berkelok menyapa perjalanan kami. Pemandangan cantik dan pohon besar yang tertanam di kanan dan kiri jalan pun seolah menyapa perjalanan kami.

Pemandangan indah menyapa perjalanan menuju Kebun Kopi Desa Taji (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

Jalan semakin menanjak, angin terasa segar, dan kawasan permukiman yang seolah ada di puncak gunung pun terlihat semakin jelas. Selama perjalanan, masyarakat yang beraktivitas dengan tanaman dan hewan ternaknya pun tak hentinya menyapa kami yang berkendara.

"Monggo pinarak (silahkan mampir; red)," sapa warga yang terdengar jelas saat kami melintas. Sapaan dan senyuman dari warga terus menemani perjalanan menuju desa penghasil kopi terbaik di dunia itu.

Hingga akhirnya, papan nama berbunyi 'Selamat Datang di Desa Taji' menyapa dan memberi arahan jika tujuan kami semakin dekat. Tak lama, kami pun berhenti di salah satu tempat nongkrong para pemuda pemudi yang tengah asyik menyeruput kopi.

Di sana, kami harus memarkirkan kendaraan dan berganti dengan kendaraan lain. Karena untuk menuju kebun kopi, medan yang harus dilalui cukup terjal dan menanjak. Rasanya tidak mungkin bagi kami untuk berkendara sendiri. Kami pun akhirnya berboncengan dengan para petani yang sudah terbiasa dengan medan curam itu.

Pertama melihat medan, rasa tak percaya menghampiri. Medan yang begitu tajam dan kelokan yang luar biasa harus dilalui petani setiap harinya. Jalanan yang hanya bisa dilalui satu kendaraan perlahan membawa kami menuju kebun kopi yang terlihat indah dari pusat permukiman warga. Beberapa kali kami pun berhenti dan turun dari kendaraan saat berpapasan dengan petani yang tengah membawa hasil kopi yang dipanen.

Sampai pada akhirnya kami sampai di salah satu kebun kopi milik salah satu petani Desa Taji yang tengah panen. Tampak ceria, dua orang perempuan paruh baya dan dua oran laki-laki paruh baya sudah memanen biji kopi yang merah. Mereka pun membawa sebuah kain yang dililitkan pada tubuh untuk menampung biji kopi. Ada juga yang memilih menggunakan kaleng sebelum akhirnya dimasukkan pada karung.

"Ini panennya setiap satu tahun sekali mbak. Kami hanya memanen biji yang sudah merah sempurna," terang salah seorang petani sembari melanjutkan memetik kopinya.

Petani tengah memanen biji kopi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

Pohon kopi pun tampak berjajar rapi di banyak sisi. Tampak, biji yang sudah merah sempurna dan baru tumbuh tertutup rapi oleh hijaunya daun. Ada juga tangkai yang mulai dipotong oleh para petani. Tujuannya adalah untuk memotong dahan yang dapat menghambat pertumbuhan kopi.

Melihat hamparan pohon kopi yang ditanam di lahan yang sangat luas, perasaan senang dan lega pun muncul. Ternyata, di tanah negeri ini diproduksi kopi berkelas dunia yang begitu nikmat. Kopi yang banyak dibanggakan anak bangsa itu adalah kopi milik petani lokal Indonesia. Perasaan bangga datang menyaksikan perjuangan petani kopi menanam dan memproduksi kopi berkelas internasional seperti itu.

Beberapa saat, kami tim MalangTIMES pun belajar sedikit tentang dunia perkopian bersama para petani yang tengah asyik memanen biji kopi. Usai berbincang dengan para petani dan melihat proses memanen, kami melanjutkan perjalanan ke kebun kopi selanjutnya.

Kebun kopi ke dua yang kami kunjungi adalah kebun kopi milik Sertu Heru, Babinsa Koramil 0818/23 Jabung yang berhasil menghidupkan kembali produksi kopi di Desa Taji, dan telah menemani perjalanan kami. Singkat cerita, Sertu Heri ini menjadi sosok penting dalam perjalanan kopi Desa Taji. Karena melalui tangan dinginnya itulah, Kopi Taji akhirnya kembali diproduksi dan dikenal masyarakat serta pecinta kopi secara lebih luas.

"Saya sengaja menanam kebun kopi untuk memberi contoh pada petani di sini, bahwa kopi bisa menghasilkan dan bernilai ekonomis. Karena dulu, di sini itu gudangnya kopi. Tapi sempat berganti haluan dengan tanaman lain dan kini mulai kembali ditanami kopi," terang Heri.

Tak jauh berbeda dengan kebun kopi milik petani lainnya, pohon kopi milik Heri tampak begitu rindang. Bijinya yang masak dan berwarna merah sempurna pun bergelantungan dengan padatnya. Biji-biji itu dalam waktu dekat siap dipanen dan diproduksi. Sebelum akhirnya dikirimkan ke berbagai kedai kopi di penjuru Indonesia, salah satunya Terminal Kopi Malang yang terletak di lantai satu Pasar Terpadu Dinoyo. Di sana, kopi terbaik yang ditanam di lereng Gunung Bromo ini bisa dirasakan.

Penasaran seperti apa proses penanaman, perawatan, hingga produksi kopi terbaik di dunia yang ada di Malang itu? Kami akan melanjutkan cerita perjalanan ini pada tulisan berikutnya. Di dalam tulisan itu pula akan kami sajikan beberapa tips serta rahasia yang menjadikan Kopi Desa Taji menjadi primadona dan terbaik di dunia.

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : A Yahya
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top