Angkat Derajat Keluarga dengan Kuliner Belut Khas Malang di Terminal Kopi Malang

Budi Sugiarto, Pemilik Si Belut Group. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Budi Sugiarto, Pemilik Si Belut Group. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

SURABAYATIMES, MALANG – Jika mengunjungi Terminal Kopi Malang yang terletak di Pasar Dinoyo lantai 1, ada satu stan kuliner masakan nusantara belut sekaligus jus buah. Belut yang disajikan adalah belut khas Malang. Belut khas Malang tentu belut yang renyah, bumbunya terasa mantap, dan dijamin sehat.

Sebelumnya perlu diketahui, media online berjejaring terbesar di Indonesia MalangTIMES.com, Pasar Dinoyo Terpadu, Kadin UMKM Kota Malang, Citra Polinema, dan Aku Kuliner Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dari berdirinya Terminal Kopi Malang ini.

Stan belut yang dinamakan Si Belut Group itu dipunyai oleh pria bernama Budi Sugiarto. Sebelum memiliki stan di Terminal Kopi Malang, pria yang tinggal di Jalan Melati, Sekarpuro tersebut sempat mengalami masa-masa sulit pada saat krisis moneter hingga tidak mampu menafkahi keluarganya.

Budi merupakan lulusan Jurusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Ia pernah memiliki usaha di bidang mebel. Lantaran krisis moneter yang melanda Indonesia, usahanya tersebut bangkrut.

Bangkrutnya Budi menyebabkan ia mengalami kerugian besar yang nilainya setara dengan 4 mobil. Bahkan, Budi mengaku ia sampai tak bisa menghidupi istrinya.

Budi pun berusaha bangkit. Dibantu keluarganya, Budi memutuskan untuk merintis usaha belut goreng. "Kalau kita di dunia mebel tidak setiap hari orang itu beli kursi, tidak setiap hari orang itu membenahi rumah, tapi yang setiap hari mereka cari adalah makanan. Akhirnya kita ambil kesimpulan berarti bisnis makanan ini prospek. Siapapun pasti butuh makan," ungkapnya kepada MalangTIMES, Jumat (23/8/2019).

Nah, makanan yang dicari banyak orang tentu adalah makanan yang sehat, murah, dan higienis terutama. Hingga dipilihlah usaha kuliner belut goreng tersebut. "Kita menyiapkan nasi lalapan belut goreng khas Malang. Saya menyiapkan yang siap saji dan yang sudah dalam bentuk kemasan atau kita kenal dengan camilan belut goreng," ucapnya.

Berbeda dengan belut khas lokal lain, belut goreng Malang memiliki ciri khas lebih crispy dan bumbunya lebih terasa. "Khususnya dalam bentuk kemasan, bisa awet sampai 3 minggu dan ini tanpa pengawet. Jadi sehat, sangat bagus untuk kita-kita yang menjalankan hidup sehat," beber pria kelahiran Malang, 22 Juli 1975.

Budi merintis usaha belut goreng ini sejak tahun 2001 sampai sekarang. Ia memulainya dengan berjualan keliling di sekitar Sawojajar mulai pukul 4 sore hingga malam. Berkat kerja keras Budi, usaha ini bertahan sampai sekarang.

Nama Si Belut Group sendiri diakuinya adalah sebuah doa. Harapannya, usaha belutnya memiliki banyak cabang. Pria yang dikaruniai 1 anak tersebut saat ini berjualan belut di 3 titik sekaligus, yakni di Jalan Raya Ampeldento No. 22, di kediamannya di Jalan Melati, dan di Terminal Kopi Malang. Kini, ia mampu mempekerjakan karyawan.

"Alhamdulillah meskipun usahanya sederhana, bahan-bahannya juga gampang, penyajiannya juga gampang, kita juga mampu menghasilkan generasi muda yang entrepreneur muda," imbuhnya.

Beberapa mantan karyawannya memilih untuk membuka usaha belut sendiri dan sukses setelah menyerap ilmu yang diberi Budi.

Masalahnya yang ada saat ini, harga belut melambung. Mencapai Rp 60 ribu perkilogram. Sementara pada tahun 2000, harganya masih Rp 3.500. "Kita sudah ada penyedia belut. Cuma sekarang kita agak kesulitan karena harganya sangat tinggi. Kita juga sangat tergantung dengan alam," ungkap pria lulusan SMAN 2 Malang tersebut.

Saat ini, persaingan di usaha kuliner juga semakin besar. Usaha kuliner di Malang sudah menjamur.

Namun, membuka stan di Terminal Kopi Malang yang terletak di Pasar Dinoyo lantai 1 ini menurutnya adalah pilihan yang tepat lantaran lokasinya yang strategis. "Saya melihat tempat ini strategis, tempat ini bagus, pasarnya bagus, banyak mahasiswa. Terutama pegawai-pegawai toko-toko di sekeliling sini. Mereka sangat haus dengan makanan yang murah meriah, tapi juga enak," jelasnya.

Selama bertahun-tahun usaha, tentunya Budi sudah banyak mengalami siklus naik turun. Untuk tetap bertahan, yang terpenting baginya adalah tidak putus asa. "Ketekunan sangat dibutuhkan. Yang kedua adalah tekad. Yang ketiga, jangan pernah sekali-sekali menyerah. Karena di mana pun kesulitan pasti akan menghalang, akan sangat banyak orang yang membantu. Kita tidak boleh takut mengambil keputusan. Kita harus yakin bahwa keputusan kita adalah yang terbaik," bebernya.

Yang perlu dilakukan adalah terus belajar dan pintar menangkap peluang. Sebab kesempatan tidak datang dua kali. Begitu melihat Terminal Kopi Malang strategis, ia langsung memutuskan untuk membuka stan di sana. Meski, tantangannya banyak ia mengaku tak pernah takut. "Kita punya tujuan baik dalam membuka usaha, yaitu untuk mengangkat derajat martabat hidup kita dan keluarga. Jangan pernah sekali-kali ragu," pungkasnya.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : A Yahya
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top