Tiga Poros Pilwali Surabaya 2020 hingga Munculnya Poros Bonek

Ilustrasi
Ilustrasi

SURABAYATIMES – Kota Surabaya akan menggelar pemilihan wali kota (pilwali) tahun 2020. Pilwali sebelumnya hanya diikuti dua calon. Yaitu, Tri Rismaharini yang bergandengan dengan Whisnu Sakti Buana dan Rasiyo yang bergandengan dengan Lucy Kurniasari.

Namunpilwali 2020 mendatang ini diprediksi bakal lebih ramai. Calon yang maju diperkirakan lebih dari dua. Dan bahkan diprediksi bakal ada tiga poros kekuatan.

"Hampir 20 tahun Surabaya dipimpin oleh kader partai merah. Dua periode Bambang DH dan dua periode Risma. Hegemoni PDIP selama 20 tahun tak tergoyahkan. meski PDIP pernah kalah dengan PKB dan Demokrat di parlemen.  Namum apapun partainya PDIP tetap Walikotanya," kata Direktur Lembaga Survey Regional (LeSure) Mufti Mubarok.

Menurut dia, dalam pilwali yang akan digelar sebentar lagi ini, akankah PDIP masih bisa bertahan? Sebab, dalam Pemilu 2019, PDIP masih menjadi pemenang telak, jauh dari partai lainnya. Di dewan, PDIP mendapatkan 15 kursi, jauh dengan partai lain yang maksimal hanya lima kursi. "Adalah Bambang DH dan Risma yang menjadi ikon sekaligus simpul kemenangan partai merah ini," bebernya.

Mufti menjelaskan diprediksi bakal ada tiga poros kekuatan yang bersaing dalam Pilwali Surabaya nanti. "Pertama poros Merah karena setidaknya PDIP bisa mengusung satu paket . Namun tokoh dari PDIP cukup banyak meskipun nanti mengerucut menjadi satu," lanjut Mufti.

Nama itu seperti Whisnu Sakti Buana, Ery Cahyadi, Puti Soekarno dan Diah Katarina. Namun tetap keputusan terakhir berada di tangan Ketua Umum DPP PDIP Megawati. "Bu Mega tampaknya akan condong ke calonnya Risma. Siapa dia? sudah bisa ditebak siapa calonnya Risma," jelas Mufti tanpa menyebutkan nama pasti.

Kubu selanjutnya adalah Poros Pelangi. Gabungan partai tengah ada partai oranye, biru dan hitam dan lainnya. Namun tokoh-tokoh  poros ini kurang bisa dijual alias masih krisis tokoh.

Sedangkan poros terakhir adalah tokoh  muda  dari partai kecil maupun dari independen yang berlomba. "Para calon-calon poltisi modal bonek ini bermunculan. Yang penting muncul dulu dan entah nanti gimana belum jelas. Rata-rata calon poros ketiga ini masih cek sound semua. Hasil polling masih di bawah lima persen semua elektabiltasnya," kata Mufti kembali.

Dia menambahkan, dari poros yang ada dengan pengalaman empat kali pemilu di Surabaya, PDIP masih tak terkalahkan. Skenario pertama adalah kalau poros pertama maju sendiri, maka masih kuat. Kalau poros pertama dan kedua gabung, maka akan tidak tertandingi.

"Bagaimana peluang poros ketiga? Poros ketiga tampaknya akan menjadi kuda hitam yang tidak hitam. Artinya hanya pengembira demokrasi. Namun poros pertama juga di awal awal akan ada perpecahan yang sengit meski nantinya solit lagi dengan kompromi," imbuh Mufti.

 

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : Yunan Helmy
Sumber : Surabaya TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top