Sebelum Mulai Pelajaran, SMA Maryam Surabaya Biasakan Siswanya Setor Hafalan Al-Qur'an

Prosesi wisuda di SMA Islam Maryam
Prosesi wisuda di SMA Islam Maryam

SURABAYATIMES – SMA Islam Maryam, Surabaya memwisuda siswanya, Kamis (20/6) pagi di Gedung Wanita, Jalan Kalibokor. Prosesi wisuda tersebut selain dihadiri siswa, orang tua wali murid juga para guru pengajar.

Ada yang istimewa pada wisuda kali ini. Karena ada beberapa siswa yang lulus dengan kategori mampu hafal Al-Qur'an. Yaitu, Juz 30 dan Juz 1.

Program hafalan Al-Qur'an ini sudah berjalan selama satu tahun terakhir. Yang rutin dilaksanakan setiap hari. Yaitu sebelum memulai pelajaran di kelas.

"Siswa kan masuknya jam tujuh pagi. Bagi yang mengikuti program hafalan Al-Qur'an tiba lebih awal sekitar jam enam pagi," ujar Kepala Sekolah SMA Maryam Luluk Asfiah kepada SurabayaTIMES.

Menurut dia program ini tidak wajib. Namun hanya bagi siswa yang memang ingin menghafal atau bisa saja. "Ada persetujuan dari siswa dan orang tuanya," terang dia.

Program hafalan Al-Qur'an ini dibagi dalam dua kelas. Bagi yang sudah lancar mengikuti kelas Bil Ghoib atau tanpa melihat. Sedangkan bagi yang belum lancar mengikuti kelas Bin Nadhor yang masih perlu melihat teks Al-Qur'an.

Selama satu tahun dibuka program ini, beberapa siswa cukup antusias. Ada sekitar 50 siswa dari kelas X, XI dan XII yang mengikuti.

"Yang mengajar juga khusus. Kita sediakan dua orang ustad di masjid yang mendampingi," bebernya.

Sebagai pimpinan di sekolah, Luluk mengaku sengaja membuat program ini. Tujuannya adalah untuk mencetak generasi Qur'ani. Sekaligus mewadahi para siswanya yang pernah mondok di pesantren.

"Sekarang bagi anak yang hafal Al-Qur'an memiliki  banyak keuntungan. Misalnya PWNU Jatim membuka bagi mereka yang hafal lima juz bisa daftar dan dapat beasiswa di lima perguruan tinggi negeri (PTN) yang ada di Jawa Timur," lanjut perempuan berjilbab ini.

Sementara itu Lutfiatul Mazidah salah seorang siswi yang hafal Juz 1 serta Juz 30 mengaku termotivasi untuk menghafal Al-Qur'an. "Pernah saya lihat di televisi. Ada anak yang berkebutuhan khusus tapi bisa menghafal Al-Qur'an. Jika dia bisa mengapa saya tidak," tegasnya.

Dalam setiap hari dia mengaku biasa menyetor hafalan Al-Qur'an. "Saya hafalannya biasa setelah shalat subuh. Tidak banyak, cukup satu lembar saja setiap hari. Sampe di sekolah langsung setor," bebernya.

Meskipun mengikuti hafalan Al-Qur'an Lutfiatul menambahkan tidak kesulitan dalam belajar. "Yang penting ada niat dan mampu memanajemen waktu dengan tepat," imbuhnya.

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Surabaya TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top