Potensi Unggulan Daerah, Gubernur Petakan 13 Daerah Jatim Produsen Garam

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam penyaluran KUR Garam Rakyat di Lapangan Bunder, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Sabtu (13/4).
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam penyaluran KUR Garam Rakyat di Lapangan Bunder, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Sabtu (13/4).

SURABAYATIMES –  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berharap kredit usaha rakyat (KUR) bisa menjadi pintu  masuk kebangkitan petani garam rakyat. Pasalnya, harapan tersebut diinginkan agar kejayaan produksi garam di Pulau  Madura, khususnya di wilayah Kalianget, Kabupaten Sumenep, beberapa tahun yang lalu dapat kembali naik. 

"Tetesan KUR dan teknologi tepat guna sangat dinantikan oleh petani garam," ungkapnya saat memberikan sambutan pada lenyaluran KUR Garam Rakyat di Lapangan Bunder, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, 
Sabtu (13/4). 

Gubernur Khofifah menjelaskan, kondisi tersebut disebabkan beberapa faktor, sehingga kejayaan tersebut  sempat menurun walaupun saat ini Kabupaten Sumenep dan Sampang masih sebagai daerah produksi garam terbanyak di Indonesia. 

Masih menurut Khofifah, di Jawa Timur terdapat 13 kabupaten/kota yang mempunyai lahan produksi garam cukup luas. Di antaranya Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, Kota Surabaya , Probolinggo.  "Saat ini sangat diperlukan pemetaan daerah penghasil garam sehingga menjadi potensi unggulan daerah, dengan menggunakan teknologi tepat guna," ungkapnya. 

Selain itu. diperlukan agar para pengepul garam menentukan standar harga agar harga tetap terjaga dan tidak  turun pada waktu-waktu tertentu. 

Pada kesempatan itu, Khofifah menyampaikan kepada Menko Bidang Perekonomian RI Dr Darmin  Nasution agar ada kerja sama antara Kemenko Bidang Perekonomian, Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), lerguruan tinggi atau akademisi dengan harapan kebijakan yang tercipta akan menjadikan sentra-sentra penghasil  garam menjadi berlian-berlian laut yang mengungkit kesejahteraan masyarakat garam. 

"Mudah-mudahan usaha-usaha yang dilakukan termasuk penyaluran KUR mampu membangkitkan  kesejahteraan petani garam," pungkasnya penuh harap. 

Sementara itu, Menko Bidang Perekonomian RI Dr Darmin Nasution pada kesempatan itu menjelaskan bahwa  pemerintah terus berusaha untuk memperbaiki kebijakan untuk penyaluran KUR demi terciptanya kesejahteraan masyarakat.  Usaha yang dilakukan antara lain yang dulunya petani garam tidak termasuk penerima KUR karena termasuk usaha galian C. Tetapi akhirnya dengan kebijakan yang baru mereka bisa mendapatkan kucuran KUR. 

Usaha lainnya adalah seluruh pelaku usaha bisa mendapatkan kucuran KUR tanpa melihat jenis usahanya, tanpa agunan dan dengan bunga yang sangat rendah. Saat ini bunga 7 persen per tahun. Yang lebih menyenangkan adalah angsuran kredit dapat dibayarkan setelah masa panen tiba. "Pembiayaan usaha tidak mudah diatasi apabila pembiayaan usaha dari uang sendiri," ungkapnya. 

KUR merupakan kredit dengan angka menunggak pembayaran paling kecil dari kredit yang diluncurkan oleh pemerintah.  Dijelaskan pula pada kesempatan itu, bahwa selama ini garam yang diimpor oleh pemerintah adalah garam yang diperlukan untuk produksi industri kaca atau lensa kacamata. Sebab, garam yang diproduksi rakyat kualitasnya belum sesuai dengan standar yang diperlukan untuk keperluan industri. "Pemerintah sangat menginginkan harga garam stabil disetiap waktu," harapnya. 

Salah satu yang harus dilakukan, menurut dia, dengan membuat gudang walaupun pembuatan itu tidak mudah sehingga bisa menyimpan produksi yang berlimpah dan dijual dengan harga yang stabil. Selain itu. untuk tingkatkan kualitas sesuai dengan SNI dan kuantitas produksi garam diharapkan para petani  menggunakan teknik geomembran, yaitu dengan memperbaiki kondisi lahan dari tradisional menjadi semi-intensif dan melapisi tanah dengan terpal plastik. 

Sebelum mengakhiri sambutannya. Menko Darmin Nasution menginginkan dengan dikucurkannya KUR untuk petani garam, pencapaian kesejahteraan masyarakat dapat dipercepat.

 

Pewarta : M. Bahrul Marzuki
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Surabaya TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top