Golput 2019 Diprediksi Meningkat, Ini Kata Warganet

Ilustrasi dua pasang capres dan cawapres yang menurut warganet tidak greng dan akhirnya memilih golput (Ist)
Ilustrasi dua pasang capres dan cawapres yang menurut warganet tidak greng dan akhirnya memilih golput (Ist)

SURABAYATIMES, MALANG – Golput atau golongan putih telah lama menjadi hantu dalam setiap pemilu presiden. Disinyalir membawa hal negatif dalam proses demokrasi, berbagai kalangan secara masif membendung gerakan golput dalam setiap kali pemilu presiden (pilpres).

Tapi, sejarah demokrasi di Indonesia mencatat, golput telah menjadi salah satu pilihan masyarakat saat sebagian lainnya melabuhkan pilihan terhadap para calon pemimpin bangsa. Bahkan, persentase pemilih golput dalam pemilihan presiden setiap pemilu mengalami kenaikan.

Tahun 2004, pemilih golput mencapai 21,8 persen pada putaran pertama. Di putaran kedua, para golput pun masih bersetia tidak memilih dengan angka 23,4 persen. Meningkat di tahun yang sama dan momen yang sama dengan penambahan 1,6 persen. 

Pilpres lima tahun kemudian,  tahun 2009, golput semakin menebarkan virusnya. Angka pemilih golput mencapai 28,3 persen. 

Dari situ, berbagai strategi membendung golput selama 5 tahun pun tidak berarti apa pun. Bahkan kenaikannya cukup signifikan dibandingkan 2004, yaitu mencapai 4,9 persen.

Golput  kembali naik pada Pemilu Presiden 2014 lalu, dengan angka 29 persen. Atau naik sebesar 0,7 persen.

Lantas, bagaimana dengan Pemilu Presiden 2019 yang kini semakin mendekat? Apakah golput akan semakin melonjak lagi dibandingkan beberapa pemilu di tahun lalu? Ataukah bisa ditundukkan walau dengan angka yang juga masih terbilang besar?

"Ada kemungkinan tren golput naik," kata Pangi Syarwi Chaniago, direktur eksekutif Voxvol Center. 

Soal penyebab angka golput diprediksi naik, Syarwi mengatakan, kedua sosok calon presiden di Pilpres 2019 dipandang tidak bisa menjawab persoalan. "Tidak bisa membawa harapan baru untuk mereka. Ya automatically mereka akan golput. Golput ini mestinya tidak akan terlalu tinggi kalau tiga calon misalnya. Tapi kalau dua calon, ya itu tadi, ada kemungkinan tren golput naik," urainya seperti dilansir BBC News Indonesia (24/01/2019).

Banyak aktivis juga memiliki pandangan serupa mengenai akan menguatnya kembali golput di tahun ini. Lantas, seperti apakah komentar warganet dengan adanya ancaman golput tersebut?

Dari berbagai komentar yang ada, banyak warganet  menegaskan akan menjadi pengikut golput dikarenakan faktor kedua calon presiden. "Sebenarnya golput itu terjadi karena tidak ada pilihan yang asyik saja. Apalagi pilpres 2019 bikin mual saja. Coba pak tarno dan limbad ikut, aku pasti tidak golput," komentar akun r10joseph.

aqeamth_menuliskan bahwa golput terjadi dikarenakan calon pemimpinnya banyak diragukan. "Bukan adu program tapi malah adu baku hantam..." ujarnya.

Warganet lainnya pun hampir senada menyatakan komentarnya menjadi golput, yakni karena faktor kedua capres yang kali kedua bertanding dalam perebutan kursi RI-1. backpackerak22 secara panjang mengomentari hal tersebut. Dirinya menuliskan, capres dan cawapres kurang menyakinkan dalam penegakan hukum dan korupsi, walaupun bagus tapi kurang greng bagi Indonesia yang lebih baik.

"Aku butuh capres dan cawapres yang lebih progresif. Pak Dahlan Iskan dan Mahfud MD. Kalau perempuan emakku Tri Rismaharini dan Pujiastuti Menteri Kelautan," komentarnya.

Rionoagung_ juga menyatakan pendapatnya dengan adanya tren golput yang setiap pemilu mengalami kenaikan secara persentase tersebut. Dirinya menulis: "... seharusnya kalau tidak mau ada golput para elit politik harus bisa mendinginkan suasana. Bukan justru memperkeruh suasana."

Bahkan bagi hendra_realdista07 pemilu tidak memiliki efek apa pun bagi kehidupannya. Secara apatis dirinya menyatakan: "Bodo amat gue mending kerja daripada pulang kampung sekedar nyoblos doang. Mau presidennya siapa bodo amat, penting kerja biar bisa makan. Lagian presiden nya ini itu tidak ada perubahan di hidupku kalau tidak kerja."

Berbagai komentar warganet yang bersiap dalam barisan golput tersebut mendapat tandingan dari warganet lainnya. Mereka menyampaikan berbagai komentar mengenai kerugian serta stempel bagi para golput tersebut.

Trisofia.pd yang menuliskan komentarnya menyatakan bahwa dirinya yang berada di luar negeri susah payah agar bisa menyalurkan pilihan nya. Tapi yang di dalam negeri malah golput. "...satu suara saja bisa menentukan nasib bangsa. Kalian yang berada di dalam negeri  bisa mudah menyalurkan hak pilih kalian," tulisnya.

"Golongan putih ialah ungkapan rasa tak berterimakasih dan kebodohan," tulis muhammadarifpr2 yang senada dengan komentar takizawa_hidea yang menyatakan bahwa golput sama dengan sikap tidak peduli kepada bangsa sendiri.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top