Dinkes Tulungagung: Bukan karena Imunisasi, Lumpuhnya Wildan Akibat Guillane Barre Syndrome

Kadinkes Tulungagung, Muhammad Mastur (foto : Joko Pramono/JatimTIMES)
Kadinkes Tulungagung, Muhammad Mastur (foto : Joko Pramono/JatimTIMES)

SURABAYATIMES, TULUNGAGUNG – Viralnya kasus Wildan(12) bocah asal Desa Sumberejo Kulon, Ngunut yang alami AFP (Acute Flaccid Paralysis) atau lumpuh layu setelah menerima imunisasi, menuai  banyak tanggapan. Dinas Kesehatan Tulungagung pun turut berkomentar atas kejadian itu.

Menurut Kadis Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Muhammad Mastur, sakitnya Wildan bukan lantaran imunisasi Rubella seperti yang selama ini ramai diperbincangkan. Pasalnya untuk bulan ini sesuai jadwal, bukanlah pemberian vaksin Rubella, namun imunisasi Difteri.

Namun, pihaknya ungkapkan jika penyebab Wildan alami AFP bukanlah karena imunisasi. Lumpuhnya Wildan diakibatkan oleh GBS (Guillane Barre Syndrome). Perkiraan itu diperoleh setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD dr. Iskak Tulungagung.

“Dugaan sementara diakibatkan penyakit GBS,” ujar Mastur pada awak media, Kamis (8/11).

GBS sendiri menyebabkan kelumpuhan otot mulai tungkai kaki hingga kedua lengan penderitanya. Penyakit ini bisa berbahaya dan menyebabkan kematian jika kelumpuhan yang dialami menyerang otot pernafasan, yang akibatkan otot pernafasan berhenti bekerja.

Karena pertimbangan medis, Wildan akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Hingga saat ini perkembangan kesehatan Wildan cukup bagus. Pengobatan terhadap Wildan diawasi langsung oleh tim dari provinsi.

“Di RSSA dimonitor langsung oleh tim dari provinsi (Jatim),” imbuhnya.

Untuk pembiayaan sendiri, Mastur pastikan pembiayaan pengobatan Wildan akan gratis atau tanpa dipungut biaya.  Pembiayaan pengobatan Wildan ditanggung oleh BPJS Kesehatan, atau ditanggung provinsi melalui program jaminan kesehatan daerah.

“Apapun yang dilakukan itu semua sudah dijamin pembiayaanya,” katanya lebih lanjut.

Wildan juga menjalani pengobatan Phlasma Exchange (penggantian cairan plasma darah) yang tata cara pengobatanya mirip dengan cuci darah.

Imunisasi ini, kata Mastur bukanlah penyebab juga bukan pemicu timbulnya GBS pada Wildan. Gejala awal GBS biasanya dimulai dengan diare. Kebetulan sebelum imunisasi, Wildan juga alami diare yang oleh dokter didiagnosis sebagai gejala tifus.

“Meskipun tidak diimunisasi, Wildan juga pasti alami kelumpuhan,” kata Mastur.

Dengan adanya informasi ini pihaknya berharap agar masyarakat tidak takut atau cemas anaknya diimunisasi. Pihaknya menjamin imunisasi aman dilakukan. Sebelum diberikan imunisasi, anak akan discreening atau disaring terlebih dahulu. Anak yang mempunyai riwayat kejang akan diberikan alternatif lain pemberian vaksin.

Sementara untuk anak yang sedang mengalami sakit panas, maka pihaknya melarang anak itu diimunisasi. Namun jika terjadi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), dirinya pastikan seluruh biaya akan ditanggung oleh pemerintah.

“Karena ini program nasional, jika terjadi KIPI akan ditanggung oleh pemerintah,” pungkas Mastur.

Sebelumnya, Wildan mengalami kelumpuhan setelah menerima imunisasi yang dilakukan di sekolahnya, MTs 1 Lirboyo Kediri pada Rabu (24/11) silam.

Dari dokter yang menangani Wildan diperoleh keterangan, bocah nahas ini menderita Guillain-Barre Syndrome (GBS), atau kondisi gangguan kekebalan tubuh yang menyerang sistem syaraf. Untuk menuju sembuh, Wildan membutuhkan pengobatan plasmapheresis sebanyak lima kali.

Biaya pengobatanya pun tidaklah murah, orang tua Wildan, Suyanto harus merogoh kocek hingga  Rp 120 juta. Sayang, besaran biaya itu harus ditanggung sendiri oleh Suyanto. Pasalnya BPJS Kesehatan menyatakan, hanya menanggung biaya pengobatan awal. "Itu yang saya merasa keberatan. Saya tidak sanggup menanggung biaya sebesar itu," keluh Suyanto.

 

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top