Banyak Kasus Teror Dilakukan Orang Gila, Ini Kata Ahli Jiwa RSJ Menur

(foto:ilustrasi)
(foto:ilustrasi)

SURABAYATIMESBanyak kasus teror yang terjadi beberapa waktu terakhir di Jawa Timur diketahui dilakukan pelaku yang mengalami gangguan jiwa. Berikut penjelasan pakar kejiwaan terkait perilaku agresif dari pengidap kejiwaan.

Psikiater RS Menur Surabaya dr Hendro Riyanto Sp KJ mengungkapkan, untuk orang yang mengalami persoalan pada kondisi kejiwaannya, ada yang disebut dengan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). "Bila merujuk  Undang-Undang Kesehatan Jiwa No.18 tahun 2014 keduanya memiliki perbedaan," ujarnya saat ditemui, Rabu (19/2/2018).

ODMK ialah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan dan atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Sementara ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang bermanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Menurut Hendro, kasus tertentu seperti perusakan atau penyerangan lebih banyak dilakukan oleh orang golongan ODGJ. Namun terhadap  seseorang pelaku ini, memang perlu dilakukan pemeriksaan psikologis kejiwaan lebih lanjut. Pasalnya tak jarang pula, pasien dengan gangguan ini dianggap dibuat-buat atau direkayasa agar terbebas dari hukuman atau pidana kepolisian.

"ODGJ maupun ODMK bagaimanapun kan tetap manusia. Keduanya memerlukan pengobatan dan perawatan intensif sehingga bila terbukti harus dirawat," ujar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya ini.  

Menurut dia, ada dua tipe karakter dari ODGJ, yakni pendiam dan agresif. Nah untuk tipe kedua ini, perlu kehati-hatian dalam menangani atau melakukan pendekatan terhadapnya. 

Tak sekadar bicara halus dan melakukan ajakan yang baik. Sebab, ada penderita yang agresif bisa saja langsung bereaksi impulsif saat diajak berinteraksi. Meski demikian ada juga yang tetap mau menerima dan tidak mudah tersinggung.

Seperti kasus di ponpes di Lamongan, pelaku diduga sangat agresif saat berupaya mengejar korban usai memperingatkan dengan halus kepada ODGJ ini. Pasalnya, cara pendekatan setiap orangnya tidak pasti satu sama lain.

"Tidak pasti caranya. Dokter di tempat kami sudah sering mendapat tempeleng oleh calon pasien yang agresif. Tingkatannya memang bervariasi. Kalau kena gampar, ya risiko," ujar Hendro.

Jadi bila sewaktu-waktu menemui atau mendapati anggota keluarga sendiri maupun orang lain dengan kejanggalan kejiwaan tertentu, lebih baik mengobatkannya kepada psikiater atau klinik kejiwaan. Tidak semua orang awam bisa klik membujuk atau pendekatan dengan ODGJ ataupun ODMK.

Selain itu, tipe pendiam bukan tidak mungkin bisa mengamuk dan meledak lekas pada situasi tertentu. Kondisi itu tergantung pada hal-hal tertentu yang memengaruhi sensitivitas impulsif otaknya. "Jadi, meski pendiam, bisa saja meledak tak terduga. Harus tetap kita netralisir," ujarnya.

Hendro menambahkan, prevalensi masyarakat yang menderita bisa mencapai satu persen dari jumlah keseluruhan penduduk. Hanya nol koma persen yang mengingatkan diri atau mendapat perawatan memadai untuk pemulihannya. "Jadi, jangan heran bisa tiba-tiba mendapati orang dengan gangguan jiwa di mana pun," ujar dia.

Hendro menambahkan, masyarakat tidak perlu mengucilkan atau menyakiti para penderita ini. Melainkan, perlu sikap tanggap dan perhatian untuk membawa orang tersebut mendapat perawatan dengan baik. "Sekarang mulai banyak orang yang datang mengobatkan dirinya sendiri. Tapi yang dengan keluarga ini masih jarang. Mereka masih merasa ini tabu. Padahal ini dibutuhkan pasien," tandasnya. (*)

 

Pewarta : Phaksy Sukowati
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : JatimTIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top