Bupati Malang Rendra Kresna dan Lingkungan Hidup (3)

Menjaga 44 Sungai di Kabupaten Malang, Bupati Malang Rendra Kresna Ajak Masyarakat Bergerak Bersama

(Dari kanan) Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jatim Soekarwo (tengah) memukul kentongan secara bersama-sama dalam Kongres Sungai Indonesia (KSI) II di Bendungan Selorejo tahun lalu.(Imam Syafii)
(Dari kanan) Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jatim Soekarwo (tengah) memukul kentongan secara bersama-sama dalam Kongres Sungai Indonesia (KSI) II di Bendungan Selorejo tahun lalu.(Imam Syafii)

SURABAYATIMES, MALANGKabupaten Malang merupakan wilayah yang memiliki sumber mata air terpadat di Jawa Timur (Jatim), yakni sebanyak 684 sumber. Sumber mata air tersebut mengalir ke sungai-sungai yang ada di Kabupaten Malang. Ada 44 sungai yang mengaliri wilayah yang dua periode ini dipimpin oleh Bupati Dr H Rendra Kresna.

Banyaknya sumber mata air di Kabupaten Malang di ldasari letak wilayahnya yang dikelilingi oleh sembilan gunung. Yaitu Kelud, Semeru, Kawi, Arjuno, Bromo, Anjasmoro, Panderman, Welirang dan Batok serta satu gunung dengan potensi sumber mata air yang melimpah, yaitu Gunung Kendeng. Sampai saat ini keberadaan sumber mata air yang melimpah dan mengalir ke sungai-sungai ini dimanfaatkan masyarakat untuk pengairan, penyediaan air bersih serta aktivitas lainnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Melimpahnya potensi sumber air dengan puluhan sungai yang membentang ini menjadi tantangan besar bagi bupati Malang dan jajarannya dalam melakukan konservasi dan perlindungannya. Tercatat, tahun 2016 dari data Dinas Lingkungan Hidup, kualitas air di persungaian yang dipantau dan diteliti mengalami pencemaran dengan tingkat bervariasi.

Dalam data tersebut, sebagian besar sungai yang ada tidak memenuhi standar baku mutu badan air berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 

“Indeks kualitas air (IKA) sungai-sungai di Kabupaten Malang hanya 8% sungai yang memenuhi baku mutu air. Sedangkan 88% sampel air sungai masuk kategori cemar ringan dan sebesar 3% sampel air sungai masuk kategori cemar sedang,” papar bupati kesembilan belas Kabupaten Malang ini, Rabu (12/07) kepada Malang TIMES.

Menampilkan bupati rendra kresna lingkungan hidup.jpg

Kondisi tersebut, menurut Rendra, disumbang faktor limbah rumah tangga (domestik) yang langsung dibuang atau disalurkan ke sungai-sungai. “Dua faktor penyumbang pencemaran sungai adalah deterjen 14,3 persen dan total coliform 9,5 persen. Ini baru yang dari limbah domestik semuanya,” ujarnya yang juga menyampaikan pertumbuhan industri dalam berbagai kategori pada akhir tahun 2015 sebanyak 22.261 serta penanganan limbah domestik dari rumah sakit juga menjadi faktor penyumbang terjadinya pencemaran.

Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang mencatat pada tahun 2016, pemantauan terhadap 51 industri dan kegiatan usaha yang berpotensi mencemari lingkungan terdapat 76,47% sudah mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan 92,16% sudah mempunyai dokumen pengelolaan lingkungan.   

 

Sedangkan pemantauan terhadap 16 rumah sakit di tahun yang sama menunjukkan hasil terdapat 8 buah rumah sakit yang memenuhi standar baku mutu effluent-nya.  

Pengawasan, perlindungan dan konservasi atas sumber mata air dan sungai tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah daerah sendiri. Keterlibatan seluruh masyarakat dalam proses menjaga kelestarian sungai menjadi kunci mengurangi pencemaran sungai yang ada di Kabupaten Malang. 

Rendra mengambil contoh di sepuluh sungai yang ada, yaitu Brantas, Lesti, Metro, Lahor, Lekso, Dirdo, Konto, Kedungbanteng , Kemudinan dan Manjing. Panjang totalnya mencapai 313,5 kilometer (km). “Ini baru 10 sungai saja, panjangnya seperti jarak Malang-Surabaya dua sampai tiga pulang pergi (PP). Di sinilah peran masyarakat untuk bersama pemerintahan menjaga, mengawasi dan merawatnya,”ujar Rendra.

Selain mendorong kesadaran masyarakat Kabupaten Malang, Rendra juga mendorong pelaku usaha yang ada untuk mampu mentaati seluruh regulasi mengenai  lingkungan hidup dengan cara melengkapi dokumen lingkungan, baik dokumen amdal, UKL-UPL dan SPPL. 

Pemantauan, pengawasan, koordinasi intensif lintas sektoral dan pembangunan sarana pengolahan air limbah merupakan strategi-strategi yang diluncurkan bupati Malang dalam menanggulangi masalah kualitas air tersebut. “Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengendalian lingkungan hidup melalui sosialisasi, edukasi dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup akan terus kita tingkatkan. Sanksi bagi pelaku usaha juga akan kita terapkan secara tegas,” tandas suami Jajuk Rendra Kresna ini.

Dia juga mencanangkan target peningkatan indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) pada tahun 2021 bisa mencapai 68,5 persen. Saat ini, angka indeks pencemaran air menunjukkan capaian sebesar 51 persen, dengan target yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Malang tahun 2016 - 2021 adalah sebesar 54,6 persen.

“Menjaga lingkungan hidup adalah pekerjaan kita bersama. Oleh karena itu ayo kita bergerak bersama menyelamatkan sumber mata air dan sungai yang telah menghidupi kita dan kelak anak cucu di masa depan,” pungkas Rendra. (*) 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top