Soekarwo Tekankan 4 Strategi Peningkatan Daya Saing Jatim

Ketua DPR RI memukul gong sebagai simbol dimulainya forum sinergitas (foto: adi s/surabayaTIMES)
Ketua DPR RI memukul gong sebagai simbol dimulainya forum sinergitas (foto: adi s/surabayaTIMES)

SURABAYATIMES – Meningkatkan daya saing Jawa Timur, Gubernur Jatim Soekarwo menekankan empat strategi untuk meningkatkan daya saing guna memasuki berbagai peluang di pasar global.

Empat strategi tersebut adalah ertama, stabilitas makro ekonomi. Kedua, pemerintahan dan tata letak kelembagaan. Ketiga, keuangan, bisnis dan kondisi tenaga kerja. Keempat, kualitas hidup dan pengembangan infrastruktur. 

Soekarwo mengatakan, jika daya saing bisa ditingkatkan, maka berbagai peluang di pasar global akan bisa dimanfaatkan secara optimal. Peran penting Jatim terhadap perekomomian wilayah lain di Indonesia, secara geografi politik, dan geógrafi ekonomi, posisi Jatim sebagai center of gravity di Indonesia. 

"Posisi inilah yang membuat Jatim bisa unggul dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,55 persen, di atas nasional yang hanya 5,02 persen," ujar Soekarwo saat menjadi narasumber dalam Forum Sinergitas bertema 'Sinkronisasi antara RPJMD Provinsi Jawa Timur Tahun 2014-2019 dan RPJMN Tahun 2015-2019', di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta, Jl. Hayam Wuruk No. 36-37 Jakarta, Jumat (3/3/2017) malam.

Dengan PDRB Jatim sebesar Rp. 1.855,04 triliun, Jatim memberi sumbangan sebesar 14,95 persen terhadap PDB Nasional yang mencapai Rp. 12.406,80 triliun. Dari total PDRB Jatim, sektor industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar yakni sebanyak 28,92 persen, dilanjutkan dengan perdagangan mencapai 18 persen, dan pertanian sebanyak 13,31 persen. Hal tersebut menandakan bahwa industrialisasi saat ini sudah menjadi lokomotif pembangunan Jatim. 

"Namun demikian, ada hal penting yang perlu dilakukan pembenahan, terutama di industri pengolahan," pungkasnya.

Menurutnya, saat ini banyak industri yang menggunakan peralatan lama dalam berproduksi sehingga hal tersebut berpotensi menurunkan produktifitas. Karena itu dirinya berharap Bappenas bisa mendorong pengembangan industri manufaktur agar persoalan tersebut segera teratasi.

Strategi lain yang juga diterapkan untuk memperkuat makro ekonomi adalah dengan membentuk 'Atase Perdagangan Dalam Negeri' yang berupa Kantor Perwakilan Dagang (KPD).

Meningkatkan daya saing Jawa Timur, Gubernur Jatim Soekarwo menekankan empat strategi untuk meningkatkan daya saing guna memasuki berbagai peluang di pasar global.

Empat strategi tersebut adalah ertama, stabilitas makro ekonomi. Kedua, pemerintahan dan tata letak kelembagaan. Ketiga, keuangan, bisnis dan kondisi tenaga kerja. Keempat, kualitas hidup dan pengembangan infrastruktur. 

Soekarwo mengatakan, jika daya saing bisa ditingkatkan, maka berbagai peluang di pasar global akan bisa dimanfaatkan secara optimal. Peran penting Jatim terhadap perekomomian wilayah lain di Indonesia, secara geografi politik, dan geógrafi ekonomi, posisi Jatim sebagai center of gravity di Indonesia. 

"Posisi inilah yang membuat Jatim bisa unggul dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,55 persen, di atas nasional yang hanya 5,02 persen," ujar Soekarwo saat menjadi narasumber dalam Forum Sinergitas bertema 'Sinkronisasi antara RPJMD Provinsi Jawa Timur Tahun 2014-2019 dan RPJMN Tahun 2015-2019', di Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta, Jl. Hayam Wuruk No. 36-37 Jakarta, Jumat (3/3/2017) malam.

Dengan PDRB Jatim sebesar Rp. 1.855,04 triliun, Jatim memberi sumbangan sebesar 14,95 persen terhadap PDB Nasional yang mencapai Rp. 12.406,80 triliun. Dari total PDRB Jatim, sektor industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar yakni sebanyak 28,92 persen, dilanjutkan dengan perdagangan mencapai 18 persen, dan pertanian sebanyak 13,31 persen. Hal tersebut menandakan bahwa industrialisasi saat ini sudah menjadi lokomotif pembangunan Jatim. 

"Namun demikian, ada hal penting yang perlu dilakukan pembenahan, terutama di industri pengolahan," pungkasnya.

Menurutnya, saat ini banyak industri yang menggunakan peralatan lama dalam berproduksi sehingga hal tersebut berpotensi menurunkan produktifitas. Karena itu dirinya berharap Bappenas bisa mendorong pengembangan industri manufaktur agar persoalan tersebut segera teratasi.

Strategi lain yang juga diterapkan untuk memperkuat makro ekonomi adalah dengan membentuk 'Atase Perdagangan Dalam Negeri' yang berupa Kantor Perwakilan Dagang (KPD).

Pewarta : Adi Supra
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Surabaya TIMES
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top