Tingkatkan UMKM, Jangka Pendek Pasar Harus Diperkuat

Tingkatkan UMKM, Jangka Pendek Pasar Harus Diperkuat

Soekarwo Memimpin Rapat Pleno TPAKD (Foto: Adi S/ SurabayaTIMES)
Soekarwo Memimpin Rapat Pleno TPAKD (Foto: Adi S/ SurabayaTIMES)

SURABAYATIMES – Untuk meningkatkan pertumbuhan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Gubernur Jatim, Soekarwo mengusulkan dalam jangka pendek agar memperkuat pasar, SDM, dan pembiayaan.

Sedangkan dalam jangka panjang industri besar harus mempermudah penyediaan bahan baku, jaringan, energi, upah dan infrastruktur.

Menurut Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, dalam hal penguatan pangan perlu dilakukan riset benih, perbaikan jaringan irigasi, pengendalian lahan, dan ketersediaan agro input.

“Kondisi pangan dan sandang di Jatim sudah mencukupi, oleh sebab itu jika usulan tersebut segera dilakukan saya optimis pertumbuhan ekonomi di Jatim mampu mencapai 5,7% pada tahun 2107 nanti,” harapnya.

Selain itu, keberadaan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) ProvINSI Jatim sangat diperlukan untuk mempermudah pembiayaan sektor UMKM. TPAKD Ini dibentuk agar yang kecil bisa mendapat perlindungan dan mendapat harga yang lebih murah.

"Dengan begitu, Lembaga Jasa Keuangan (LJK) bisa masuk di semua lini masyarakat,” ujar Pakde Karwo saat menyampaikan paparan pada acara Rapat Kerja Tim TPAKD Provinsi Jatim di Hotel JW Marriot, Surabaya, Selasa (27/12/2016).

Ia menjelaskan, dasar pembentukan TPAKD Jatim adalah untuk memperluas akses keuangan dan memberikan terobosan dalam membuka akses keuangan. Selain itu juga untuk mendorong LJK dalam pembangunan ekonomi daerah.

“Saya juga berharap tim dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui TPAKD bisa mengoptimalkan potensi dana daerah untuk pendanaan kegiatan usaha yang lebih produktif,” terang Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim.

Tugas pokok dan fungsi Tim TPAKD Jatim adalah untuk mendorong LJK dalam pengembangan dana produktif misalnya melalui banking system. Pola ini lebih efektif daripada hanya sekedar memberi bantuan pada pengusaha kecil, karena masyarakat masih bermindset bantuan dari pemerintah tidak perlu dikembalikan. Maka semua yang kecil harus diberi akses meskipun tidak bankable.

“Potensi UMKM di Jatim sangat besar. Tapi sayangnya mayoritas pelaku UMKM belum tersentuh pembiayaan dari bank sehingga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) milik pemerintah harus bisa menjadi media untuk menyalurkan kredit dengan bunga murah," ujar Pakde Karwo yang juga Pembina Tim TPAKD ProvINSI Jatim. 

Tantangan yang dihadapi Jatim saat ini diantaranya yakni tingkat kemiskinan yang terus menurun meskipun tidak terlalu besar setiap tahunnya, nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang makin naik setiap tahun, dan tingkat pengangguran terbuka yang naik turun tiap tahunnya.

Sedangkan tantangan di sektor pertanian ialah adanya mutasi lahan kurang lebih 1100 Ha/tahun, di sektor perdagangan adalah tingginya biaya logistik, serta masih tingginya impor bahan baku di sektor industri. "Kredit pertanian menjadi perhatian dari TPAKD, sebab pembiayaan sektor ini masih kecil, yakni sekitar 2,27 pesen dari total penyaluran kredit," imbuhnya.

Menurutnya, permasalahan yang dihadapi UMKM Jatim yang bergerak di industri primer, Industri kreatif, maupun industri sekunder utamanya di sisi pembiayaan masih tingginya suku bunga kredit mikro yang mencapai 17,5% hingga 19,5%. Selain itu juga minimnya dukungan pada pendidikan vokasional misalnya kurangnya laboratorium/workshop dan Politeknik (D3).

“Berdasarkan data yang ada hampir 48% masyarakat Indonesia tidak memiliki akses finansial. Saat ini kelas menengah semakin baik, baik dalam meningkatkan aset, pendapatan, dan tabungan sedangkan masyarakat miskin tidak memiliki ketiganya,” ungkapnya.

Ia menegaskan, langkah-langkah memperkuat UMKM harus ditingkatkan dan segera direalisasikan karena jika tidak maka disparitas akan makin menganga dan ongkos sosial semakin mahal. Tahun ini lanjutnya realisasi kredit dana bergulir oleh Pemprov jatim telah mencapai kurang lebih Rp 600 milyar, dengan rincian Rp 400 milyar untuk kredit industri primer dan Rp 200 milyar untuk kredit tani.

 “Langkah ini bisa ditiru oleh Bupati/Walikota dengan menitipkan sebagian dananya ke Bank dan disalurkan ke masyarakat dengan bunga murah,” terangnya.(*)

Pewarta : Adi Supra
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Surabaya TIMES
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top