Lucy Raih Gelar Doktor Ilmu Kesehatan Berkat Pitungan Jawa

Lucy Dyah Hendrawati (foto: adi s/surabayaTIMES)
Lucy Dyah Hendrawati (foto: adi s/surabayaTIMES)

SURABAYATIMES – Meski jaman sudah modern dan maju, bukan berarti budaya atau kepercayaan nenek moyang ditinggalkan Sebagian masyarakat etnis Jawa masih memegang teguh kepercayaan (belief) dan perilaku (behaviour) yang diturunkan secara turun-temurun.

Salah satu primbon Jawa yang masih banyak digunakan adalah menyangkut pitungan dalam menentukan waktu perkawinan dan slametan kelahiran anak pertama.

Fenomena tersebut nampaknya menarik bagi Lucy Dyah Hendrawati untuk melakukan penelitian (disertasi) di tiga daerah yang masih kuat memegang primbon Jawa pitungan dan slametan yaitu di Kabupaten Blitar, Kota Blitar dan Kota Surabaya.

Keberhasilan dalam membuat disertasi tersebut mengantarkan Lucy meraih gelar Doktor Ilmu Kesehatan Universitas Airlangga Surabaya dengan nilai memuaskan.

Ditemui usai ujian terbuka di Kampus A Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, Lucy mengatakan bahwa variabel pitungan penentuan waktu perkawinan memang berpengaruh terhadap variasi kelahiran anak pertama dan jumlah anak yang dilahirkan pada masyarakat etnis Jawa.

Begitu juga perasaan slamet mempengaruhi variasi kelahiran anak pertama dan jumlah anak pada etnis Jawa.

"Saya sengaja mengangkat penelitian disertasi terkait primbon pitungan karena merasa prihatin terhadap keberlangsungan budaya Jawa karena kian ditinggalkan oleh masyarakat Jawa, padahal itu sangat bermanfaat bagi Ibu, anak dan paramedis serta rumah sakit dalam mempersiapkan kebutuhan puncak kelahiran di etnis Jawa," ungkap isteri anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Fandi Utomo, Kamis (11/8/2016).

Tradisi pitungan Jawa waktu penentuan perkawinan (ijab) masih kuat. Terbukti, bulan pernikahan yang dianggap baik biasanya dilakukan pada bulan  Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah dan Besar (zulhijah). Sedangkan dianggap cukup baik adalah bulan Sapar, Bakdomaulud, Jumadilawal dan Sawal.

"Pantangan menggelar perkawinan ada di  bulan Suro, Maulud, Puasa dan Selo. Kalau dilanggar, pasangan pengantin dan keluarganya akan mendapat musibah besar dalam hidupnya. Inilah yang kerap menyebabkan waktu pernikahan dapat tertunda cukup lama," ungkap Ibu tiga orang anak ini.

Di sisi lain, lanjut Lucy Dyah Hendrawati primbon pitungan waktu pernikahan ternyata bermanfaat besar bagi pasangan yang hendak menikah untuk mempersiapkan fisik dan mental dalam menghadapi kehamilan dan kelahiran anak pertama yang sehat.

"Artinya, perkawinan yang direncanakan dengan baik itu  akan menghasilkan anak yang sehat," jelasnya.

Menurut Lucy, nilai seorang anak bagi masyarakat Jawa adalah sebagai jaminan hari tua, sumber pembawa kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarga.

"Semakin banyak anak akan bernilai ekonomis bagi tenaga kerja keluarga pada masyarakat yang mata pencahariannya bertani. Prinsip ini masih kuat pada masyarakat petani yang tinggal di Kabupaten Blitar sehingga rata-rata memiliki lebih dari 2 anak," bebernya.


Sementara untuk slametan, lanjut Lucy bagi etnis Jawa adalah bagian upaya memperoleh ketenagan jiwa raga dalam kehidupannya. Makanya, di etnis Jawa ada slametan kelahiran, khitanan, perkawinan hingga kematian.

"Perasaan slamet yang dimiliki pasangan suami-istri diyakini akan mempengaruhi kesehatannya, termasuk pada janin yang masih dalam kandungan,"  dalihnya.

Hasil perkawinan yang melaksanakan pitungan juga lebih cepat dan memiliki anak jumlah yang lebih dari 2. "Rata-rata, proses kehamilan pasangan menggunakan pitungan tidak lebih dari 2 tahun," pungkas doktor ke 247 lulusan Fakultas Kedokteran  Unair Surabaya ini. (*)

Pewarta : Adi Suprayitno
Editor : Heryanto
Publisher : Abi Fadlan
Sumber : Surabaya TIMES
Redaksi: redaksi[at]surabayatimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]surabayatimes.com | marketing[at]surabayatimes.com
Top